#BondanElisHalal [4]

by - 11/26/2017

Empat: Bertukar Keluarga
Ketika kamu menikahi seseorang, kamu juga telah menikahi keluarganya – Elistianas

Tidak perlu memakan waktu lama, tiga hari setelah pertemuan di Bandung, Mas memberikan jawaban melalui Mba Aul. Iya, saat itu memang kami belum diperkenankan untuk berhubungan via apapun, jadi semua komunikasi kami lakukan melalui perantara kami, yaitu Mba Aul dan suaminya.
Mas memberikan jawaban bahwa Mas mau lanjut. Maka tanpa ragu, kusambut Mas dengan melanjutkan proses ini ke tahap selanjutnya, yaitu bertemu keluarga.

Pada bulan Januari 2017, Mas akhirnya datang ke rumahku, mengetuk pintu setelah terlebih dahulu ia mengetuk pintu hatiku. Mas datang, dengan berjuta harap untuk memintaku kepada Papa, agar beliau mengizinkan anak perempuan satu-satu miliknya ini bisa Mas kenal lebih jauh dalam proses taaruf ini.

Mas datang ditemani oleh Suami Mba Aul, demi kelancaran proses kami, beliau mau menemani Mas. Terima kasih banyak Ka Isjhar, semoga Allah selalu memberkahi keluarga kecil Ka Isjhar.
Kemudian Mas memulai pembicaraan, bahwa Mas ingin mengenalku lebih jauh dalam proses taaruf ini, Mas ingin serius denganku, dan meminta izin Papa, untuk membawaku bertemu keluarganya, bulan depan. Akhirnya, Papa mengizinkan, dengan catatan pernikahan kami bukanlah pernikahan yang terburu-buru. Karena saat itu, Papa, begitu aku pun, tidak menginginkan terburu-buru dalam proses ini. Aku ingin menjalaninnya sesuai ritme yang tertera pada jalurnya.

Saat itupun aku sadar betul, bahwa mungkin Papa masih ragu akan Mas. Bahwa beliau mungkin masih bertanya-tanya, siapakah Mas, laki-laki asing yang tiba-tiba saja datang ke rumah, menawarkan iman dan takwanya untuk mengenal Elis lebih jauh, dengan cara yang baik, namun tidak biasa.

Aku tau benar, mungkin itu adalah perasaan semua ayah di dunia ini. Yang mungkin tidak dapat aku mengerti, sampai nanti aku jadi orangtua. Perasaan yang mungkin hanya mereka saja yang tau.
Alhamdulillahnya, proses perkenalan Mas kepada keluargaku berjalan dengan lancar. Mas bisa membawa dirinya dengan baik, meski aku tau sepertinya Mas sedikit nerveos.

Setelah Mas pulang, aku masih harus menanyakan sinyal-sinyal Allah lagi lewat istikharah. Aku yakin, jika memang ini jalannya, tolong lancarkan ya Allah. Namun jika memang ini bukan jalannya, tolong beri tau aku.

Tanpa aku minta, ternyata semua keluargaku dari mulai Papa, Mama, Adik, Kakak, Kakak Ipar, Auntie, dan Uwakku mengatakan menyukainya. Yang herannya adalah, Mamapun begitu. Sedangkan aku tau benar, Mama bukanlah orang yang dengan mudahnya menyukai laki-laki yang datang ke rumah. Apakah ini juga sinyal dari Allah?

Lalu bulan depannya, Februari 2017, aku pergi ke rumah Mas ditemani oleh Alin, teman sekamarku saat itu sebagai mahram. Iya, kami memang belum diizinkan untuk pergi berdua, tanpa mahram.



Di perjalanan kesana, aku sempat nervous. Ya iyalah! Masa nggak nerveos ketemu calon mama mertu pertama kali? Aku masih saja sempat overthinking, apakah Mamanya nanti akan suka denganku? Apakah ekspektasi Mamanya dapat aku penuhi? Apakah Mamanya nanti tidak kecewa? Serta banyak pertanyaan-pertanyaan yang berterbangan di pikiranku saat itu.

Namun saat itu aku baru ingat bahwa, tidak perlu banyak khawatir. Allah yang akan urus semuanya. Kalau jodoh, nanti mamanya suka, kalau nggak ya mungkin belum jodoh. Ngga papa, toh aku nggak rugi apapun. Waktu itu aku sempat dikuatkan Auntie, dan Alin yang berkata, "Apa coba alasan mamanya untuk ngga suka sama Ka Elis?"

Kami akhirnya sampai Tegal. 

Siang itu, aku bertemu mamanya di stasiun, beliau menjemput kami beserta adik Mas. Hehe. Aku lalu dipeluk dan diciumnya. Hehehe, aku malu saat itu, nervous sih sebenernya. Tapi aku berusaha sekuat hati untuk belajar mengenal keluarga baru.

Setelah sampai kami bergegas makan setelah sebelumnya sempat mampir ke masjid untuk menunaikan shalat. Di tempat makan, tiba-tiba saja mamanya bilang, "Jadi mau tanggal berapa Mbak?"

Eh? 😳 

Apaan nih...

Serangan mendadak!

"Kapan apanya ya Mah?", tanyaku
"Ya nikahnya...", jelas beliau.
Kemudian aku melihat Mas, dan Mas pun melihatku dengan tatapan kaget dan bingung πŸ˜‚Ini serius kita berdua liat-liatan dan bingung mau mamanya itu apa.

"Erm.. Elis terserah Mas, Mah", kataku sambil melotot ke Mas πŸ˜‚. "Aku terserah Elis", ucap Mas.

Lah...

Aduh... Aku nggak nyangka sih bakalan langsung di bombardir pertanyaan bahkan saat minuman yang kami pesan belum sampai ke meja. Akhirnya aku menyampaikan pesan dari Papa, untuk segala urusan ini. Bahwa aku dan papa, sama-sama tidak ingin terburu-buru. Kami ingin menjalani proses ini dengan baik. Kami harus saling menyakinkan diri sendiri apakah kami benar orang yang tepat bagi satu sama lain. Ada perlu banyak pertimbangan yang harus kami pikirkan secara matang.

Terlebih bagiku, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, suci. Bukanlah urusan sepele yang dengan mudahnya dapat aku putuskan secara tiba-tiba.

Alhamdulillah, proses ngobrol kami berjalan dengan saling mengerti. Terimakasih mama, untuk dua hari yang indah dan menyenangkan. Terimakasih karena mengizinkan Elis mengenal putra sulung mama. Hehe

Akhirnya kami pulang. Dengan membawa kabar untuk Papa, bahwa bulan depan ada keluarga yang ingin bertamu.


(to be continued)

You May Also Like

0 comments